Pengertian Ilu Alamiah Dasar
Ilmu Alamiah Dasar dapat diartikan sebagai Ilmu Pengetahuan Alam (natural science) yang mengkaji tentang gejala–gejala dalam alam semesta sehingga terbentuklah konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar hanya mengkaji konsep–konsep dan prinsip–prinsip dasar yang bersifat esensial, contohnya seperti Biologi, Fisika, dan Kimia, ketiga ilmu tersebut juga memiliki turunan lagi. Ilmu Alamiah Dasar merupakan disiplin ilmu yang dapat berubah sesuai kemajuan peradaban manusia. Menurut Abdulah Aly dan Eny Rahma “Ilmu Alamiah Dasar merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Teknologi” yang pembahasannya mencakup pengenalan IPA dan ruang lingkupnya, perkembangan teknologi dan dampaknya, serta hubungannya dengan kelangsungan hidup manusia.
Bisa dibilang, ilmu alamiah adalah pengetahuan dasar yang mempelajari alam semesta,dan dapat dikatakan sebagai konsep awal terbentuknya ilmu pengetahuan alam. Yang dapat dipelajarinya dengan cara metode-metode atau prinsip-prinsip yang tidak dapat lepas dari kenyataan (realitas).
ALAM PIKIR MANUSIA DAN
PERKEMBANGANNYA
Hakekat Manusia dan Sifat
Keingintahuannya
1. Hakekat Manusia
Manusia dengan kemampuan berpikir
dan bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat
yang lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya. Akal
bersumber pada otak dan budi bersumber pada jiwa. Oleh karena itu, sejalan
dengan perkembangannya manusia memanfaatkan akal budi yang dimilikinya dan juga
ditunjang dengan rasa ingin tahu (kuriositas), maka berkembanglah pula ilmu
pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Perkembangan pengetahuan pun lebih
berkembang lagi manakala ditunjang dengan adanya tukar menukar informasi antar
manusia.
Manusia sebagai makhluk yang
memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Beberapa
kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain:
a. Manusia sebagai makhluk berpikir dan
bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam tindakan dan perilakunya
terhadap lingkungannya.
b. Manusia sebagai pembuat alat karena sadar
akan keterbatasan inderanya.
c. Manusia dapat berbicara (Homo Langues)
baik secara lisan maupun tulisan.
d. Manusia dapat hidup bermasyarakat (Homo
sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e. Manusia dapat mengadakan usaha (Homo
Economicus).
f. Manusia mempunyai kepercayaan dan
beragama (Homo religious).
2. Sifat Keingintahuan Manusia
Binatang mempunyai insting untuk
kelangsungan hidupnya, memperoleh makanan, serta hal-hal lainnya. Aktivitas
tersebut tidak berubah dari waktu ke waktu dan dinyatakan sebagai rasa
keingintahuan yang tidak berkembang atau biasa disebut idle curiousty.
Sedangkan manusia menggunakan kemampuan otaknya untuk melakukan penalaran,
pemikiran logis, dan analis. Oleh karena itu, manusia memiliki rasa ingin tahu
yang selalu berkembang yang biasa disebut dengan curiousity.
Secara sederhana perkembangan
rasa ingin tahu ini dimulai dengan pertanyaan what “apa” tentang sesuatu
kemudian dilanjutkan dengan how “bagaimana” kemudian why “mengapa”. Pengetahuan
yang diperoleh dari alam semesta ini selanjutnya merupakan dasar dari
perkembangan ilmu pengetahuan alam. Semua pengetahuan dapat diturunkan dari
satu generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu ini terus berkembang sejalan dengan
sifat manusia yang selalu ingin tahu,terutama tentang benda yang ada
disekelilingnya,alam jagad raya,bahkan dirinya sendiri. Hal tersebut mendorong
manusia untuk memahami serta menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dan
dorongan rasa ingin tahu manusia tersebut membuat mereka mencari jalan keluar
dari setiap apa yang terjadi. Pengetahuan tentang satu masalah mendatangkan
pertanyaan (masalah) lain yang ingin dijawab.
Manusia dengan rasa
keingintahuannya yang besar selalu berusaha mencari jawaban atas fenomena yang
terjadi. Seringkali mereka menerka-nerka sendiri jawabannya. Terkadang jawaban
itu tidak logis namun mudah diterima oleh masyarakat awam. Misalnya “Mengapa
ada pelangi?” kemudian mereka membuat jawaban, pelangi adalah selendang
bidadari atau “Mengapa gunung meletus?” jawabannya karena yang berkuasa marah.
Dari hal ini timbulnya pengetahuan tentang bidadari dan sesuatu yang berkuasa.
Pengetahuan baru itu muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan
yang disebut mitos. Cerita-cerita mitos disebut legenda. Mitos dapat diterima
karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingin tahu yang harus
dipenuhi. Sehubungan dengan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu
pengetahuan dan metode (Maskoeri Jasin, 2008: 3).
Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh pengetahuan, baik melalui pendekatan non-ilmiah (sains semu) ataupun ilmiah. Cara memperoleh pengetahuan dengan pendekatan sains semu dilakukan dengan mengandalkan perasaan, keyakinan tanpa diikuti proses pemikiran yang cermat. Pengetahuan yang diperoleh bisa benar bisa salah seperti pada cara prasangka atau intuisi, serta tidak efisien karena harus mencoba tanpa dasar dan kalaupun benar seringkali hanya kebetulan saja.
MITOS, PENALARAN, DAN CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
MITOS
Mitos adalah sebuah imajinasi dari manusia yang berusaha
untuk menerangkan gejala alam yang ada pada saat itu yang dikaitkan dengan
kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib. Namun, disebabkan oleh keterbatasan
manusia dalam menjelaskan hal tersebut sehingga cenderung diidentikkan dengan
seorang dewa/dewi, tokoh misteri serta sesuatu yang berbau mistis. Sehingga
pengetahuan yang diperoleh bersifat subyektif.
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan
hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia
mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh: “Apakah
pelangi itu?”, karena tak dapat dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa
pelangi adalah selendang bidadari. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari.
Contoh lain: “Mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia
mereka-reka sendiri dengan jawaban: “Yang berkuasa dari gunung itu sedang
marah”. Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya
“Yang kuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar,
matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana
bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut
dengan mitos. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda.
Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan
alat indera manusia misalnya:
1. Alat
Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak
tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga
jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
2. Alat
Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai
frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas
30.000 perdetik tak terdengar.
3. Alat Pencium
dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap
maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa
manis,masam ,asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat
dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta
bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain
namun tidak semua orang bisa melakukannya.
4. Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau
dingin namun sangat relative sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi
yang tepat.
Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di
antara manusia: ada yang sangat tajam
penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam
penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka
mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk
meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang
dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah
penciptaan alat. Meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan.
Pengulangan pengamatan dengan berbagai
cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat
diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
a. Keterbatasan
pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung
maupun dengan alat.
b. Keterbatasan
penalaran manusia pada masa itu.
c. Hasrat ingin
tahunya terpenuhi
Menurut Auguste comte (1798-1857),dalam sejarah perkembangan
jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung
tiga tahap:
1. Tahap teologi
atau fiktif
Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk
mencaari atau menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala
sesuatu,dan selalu dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik
perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak.
Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh
para dewa atau kekuatan ghaib lainnya.
2. Tahap
filsafat atau metafisik atau abstrak
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia
masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan
kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya
sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat
segala sesuatu.
3. Tahap positif
atau ilmiah riel
Tahap positif atau riel merupakan tahap dimana manusia telah
mampu berfikir secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah
dicapainya yang dikembangkan secara positif , melalui pengamatan , percobaan
dan perbandingan.
Legenda adalah sebuah cerita yang dirangkai secara turun
temurun dan dipercayai oleh masyarakat karena terbukti secara logis dalam
pendeskripsian ceritanya, cenderung mengemukakan kehadiran seorang tokoh yang
dikaitkan dengan terjadinya suatu daerah.
Contohnya:
· Tangkuban
perahu yang berlokasi di kota Bandung, sebagai hasil perwujudan kemarahan
sangkuriang yang telah gagal dalam mewujudkan pinta calon pinangannya yang
merupakan ibu kandungnya sendiri.
· Sangkuriang
· La
Madukelleng
· William Tell
· Lutung
Kasarung
Cerita Rakyat
merupakan suatu peristiwa yang dikisahkan untuk menjelaskan akan
terjadinya sesuatu yang ada dimuka bumi ini. salah satu contoh kisah rakyat
yakni tangkuban perahu sebagai perwujudan kemarahan sangkuriang yang telah
gagal dalam mewujudkan calon pinangannya yang merupakan ibu kandungnya sendiri.
Kisah bawang merah dan bawang putih yang telah kita kenal sejak dahulu dapat
menjadi salah satu contoh dalam hal ini.
Contohnya :
· Timun Mas
· Si Pitung
· Sangkuriang
PENALARAN
Penalaran terbagi menjadi dua yaitu :
1. Penalaran
Deduktif yaitu cara berpikir yang
bertolak dari pernyataan yang bersifat
umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dan menggunakan pola
berpikir silogisme.
2. Penalaran
Induktif yaitu cara berpikir yang
bertolak dari pernyataan yang bersifat
khusus untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dan terkait dengan
pengetahuan empirisme.
CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Menurut Charles Price ada 4 macam cara untuk memperoleh
pengetahuan yaitu:
1. Percaya
Seseorang akan mendapat pengatahuan karena ia percaya pada
hal tersebut adalah benar.
2. Wibawa
Sesuatu akan dianggap benar,apa bila seseorang yg berwibawa
menyatakan benar
3. Apriori
Merupakan suatu keyakinan/pendirian/anggapan sebelum
mengetahuai (melihat,mendengar,menyelidiki) keadaan tertentu.
4. Metode Ilmiah
Seseuatu dianggap ilmiah apa bila memiliki patokan yg
merupakan rambu2 untuk menentukan benar atau salah.
Ilmu pengetahuan dianggap Alamiah apabila memenuhi 4 syarat
yaitu:
· Objektif
Pengetahuan itu sesuai dengan Objek
· Metodik
Pengetahuan itu diperoleh dengan cara2 tertentu dan
terkontrol
· Sistematis
Pengetahuan ilmiah itu tersusundalam suatu system, tidak
berdiri sendiri satu sama lain saling berkaitan ,saling menjelaskan,sehingga
keseluruhan menjadi kesatuan yg utuh.
· Berlaku
Umum/ Universal
Pengetahuan tidak hanya diamati hanya oleh seseorang atau
oleh beberapa orang saja ,tapi semua org dengan eksperimentasi yg sama akan
menghasilkan sesuatu yg sama atau konsisten.
Ada 2 pokok untuk memperoleh pengetahuan yaitu:
1. Empiris
Yaitu pengetahuan yg disusun berdasarkan pada pengalaman,
paham yg dikembangkan disebut Empiris. Bagi kaum rasionalis berpendapat
pengetahuan manusia diperoleh melalui penalaran rasional yg abstrak,namun
diperoleh melalui pengalaman yg kongkrit.
2. Rasionalisme
Yaitu suatu cara yg didasarkan pada suatu rasio. Padanganya
menyatakan rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian hanya
rasio sajalah yg dapat membawa orang kepada kebenaran dan dapat memberi
petunjuk dalam segala jalan pikiran
https://intanayuda8.wordpress.com/2013/04/05/ilmu-alamiah-dasar-html/
http://taufikhidayat93.blogspot.com/2015/04/alam-pikir-manusia-dan-perkembangannya.html
https://alifatulazizah.wordpress.com/2012/04/01/mitos-penalaran-dan-cara-memperoleh-pengetahuan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar